Pusat Latihan ILmu Sosial Budaya atau disingkat PLPISB adalah lembaga penelitian sosial dan budaya di Indonesia yang digagas oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Didirikan secara resmi pada 21 Januari 1974 di Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Pada awal berdirinya lembaga ini secara resmi dikenal dengan nama PLPIS atau Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial.

PLPIS dibentuk sebagai kepedulian untuk mengembangkan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang pada saat itu sedikit sekali mendapat perhatian. Meski berlokasi di Aceh pusat studi ini didirikan untuk mendidik dan melatih para calon peneliti di dalam kajian ilmu sosial untuk skala nasional. Pada tahun 1974, sebanyak 12 orang peneliti angkatan pertama telah selesai di latih, dan mereka kembali ke universitas masing-masing. Mereka adalah dosen ilmu sosial dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia, antara lain dari UI, UNDIP, UNPAD, IKIP Malang, UNHAS, UGM, USU, IKIP Medan, IAIN Ar Raniry, UNSRI, UNAND, UNS dan lain lain. Pada saat itu tenaga ahli utama yang di undang adalah Struart A. Schegel seorang antropolog dari Universitas California, di Santa Barbara, Calofornia, Amerika Serikat. yang dipilih oleh LIPI pada tahun 1974-1976. Dan DR. Alfian menjadi direktur utama dari lembaga kebudayaan Indonesia saat itu.

Setelah jabatannya usai, posisi Schegel sebagai tenaga ahli utama digantikan oleh Dr. Lance Castles (1976-1978) dan posisi direktur di gantikan oleh Drs. Ibrahim Alfian, M.A( 1976-1977). Setelah dua tahun menjabat, posisi tenaga ahli utama berganti dengan Michael Leigh (1978-1980), dan direktur di duduki oleh Syamsuddin Mahmud (1978-1981). Robert Wessing pada tahun (1980-1982) dan Wolfgang Clauss (1982-1985) juga pernah menjabat sebagai tenaga ahli utama di bawah pimpinan direktur M.Ali Basyah Amin (1981-1984).

Selanjutnya Dr. William Liddle (1985-1987) adalah tenaga ahli utama terakhir yang didatangkan dari luar negeri, karena PLPIS pada awalnya mendapat injeksi dana dari Toyota Foundation, Jepang. Namun setelah tahun-tahun berikutnya tenaga ahli utama mulai tidak didatangkan lagi, dan tahun 1990 an Toyota Foundation menghentikan pendanaan karena beberapa sebab dan alasan. Sejumlah kegiatan penelitian mulai terkendala oleh biaya. Lalu oleh kebijakan Universitas Syiah Kuala waktu itu di bawah kepemimpinan, Prof Ali Basyah Amin, MA sebagai rektor mengambil kebijakan untuk tetap menghidupkan PLPIS dengan bantuan dana universitas dan namanya di ganti menjadi Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Universitas Syiah Kuala, agar dapat memperoleh anggaran tahunan dari universitas.

Direktur pertama dengan nama PPISB adalah Prof. Dr. Dayan Dawood, (1984-1993), Kemudian dilanjutkan oleh Prof, H. Dr. Hakim Nyak Pha, DEA dan diganti oleh Dr. Gade Ismail, M.A (1994-2001), ketika Bapak Gade Ismail meninggal pimpinan di lanjutkan kembali oleh Prof, H. Dr. Hakim Nyak Pha, DEA (2001-2003). Roda kepemimpinan terus berganti, lembaga ini juga mengalami pasang surut, setelah Prof, H. Dr. Hakim Nyak Pha, DEA diangkat menjadi Hakim Agung RI, lembaga ini sempat mandeg beberapa tahun, sampai akhirnya ditunjuklah Prof. Dr.Bahrein T. Sugihen, MA seorang sosiolog lulusan Louisiana State University, Amerika Serikat (1982) untuk menduduki posisi direktur PPISB. Kepemimpinannya berjalan selama dua tahun yaitu (2006-2008) namun kondisi sosial budaya pada saat itu mengalami perubahan besar akibat tsunami, sehingga pelatihan dan penelitian lapangan sukar untuk dilaksanakan.

Kemudian Rektor menunjuk Prof. Dr. Samsul Rizal (2008-2010), untuk menduduki posisi direktur selanjutnya, dan saat itu posisi Prof. Dr. Samsul Rizal merangkap sebagai PR I Unsyiah,. Setelah dua tahun posisi direktur di gantikan oleh Dr.Husaini Ibrahim, MA (2010-2014) dan dibawah kepemimpinan Husaini, pelatihan penelitian kembali dijalankan dan menghasilkan 7 peneliti dari IAIN dan Unsyiah.

Setelah mengalami pasang surut, kemudian DR. Saleh Sjafei seorang Sosiologi lulusan Universitas Indonesia, ditunjuk oleh Rekor Universitas Syiah Kuala sebagai direktur PPISB yang baru, dan untuk pertama kalinya posisi direktur PPISB hanya berlaku untuk masa jabatan satu tahun, setelah tahun-tahun sebelumnya rutim diganti selama dua tahun.

Bagikan halaman ini