Apa itu metodologi? Sebagian sumber bacaan memberikan pengertian bahwa ia berasal dari kata-kata: meta, hodos, dan logos. Secara sederhana dapat dipahami sebagai "ilmu yang memberikan panduan dalam upaya penyelidikan sesuatu gejala yang melampaui penampakan". Konsep metodologi, dengan kata lain, dapat dipahami sebagai keseluruhan proses berpikir mulai dari menemukan pokok permasalahan (subject matter), penjabarannya dalam suatu kerangka-kerja tertentu (theoretical framework), serta (metode) pengumpulan data untuk kebutuhan pengujian secara empiris sampai penjelasan dan penarikan kesimpulan penelitian (secara induktif-deduktif)

Methodology berkaitan dengan kata-kata, meta (sesuatu yang ada di balik sesuatu), hodos (petunjuk, jalan), dan logos (ilmu). Suatu konsep yang mengandung pengertian sebagai bidang keilmuan yang mempelajari tata-cara (petunjuk, jalan) yang memungkinkan digunakan orang (peneliti) untuk mengungkapkan segala sesuatu (fakta) yang tidak hanya dapat ditangkap panca-indera, melainkan juga realitas yang berbentuk ideas (gagasan) atau nilai-nilai (values) yang dianut seseorang atau kelompok.

Ilmu pengetahuan dapat dipahami sebagai kata-benda (hasil yang sudah jadi) ataupun kata-kerja (proses yang melibatkan ilmuan dalam mencapai kebenaran) (J.B.Conant, Understanding Science). Sebagai kata-kerja ilmu pengetahuan adalah metode., yakni cara, kegiatan yang dipraktikkan. Dalam konteks kata-kerja kita cendrung tidak melihat ilmu sebagai suatu sistem rasional, melainkan sebagai proses yang terdiri dari 2 momen penting:

Di satu pihak, (1) momen kesadaran dan perumusan masalah; dan di pihak lain, (2) momen perumusan solusi atau jawaban teoretis atas permasalahan yang diajukan. Di antara permasalahan dan solusi teoretis itu, terdapat penelitian dengan metode yang logis.

Metodologi Ilmu Pengetahuan, antara lain, mempertanyakan bagaimana susunan ilmu pengetahuan itu: apakah ilmu pengetahuan itu? dari mana asal ilmu pengetahuan? bagaimana dengan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia? apa beda pengetahuan dan ilmu pengetahuan?

Manusia memiliki pengetahuan yang bersumber pada rasio (akal- budinya). Dengan akal-budinya manusia dapat berpikir, berikir tentang sesuatu, dan ---akhirnya--- ia meperoleh sejumlah gagasan dari akal-budinya. Rasa ingin tau (curiosity) menjadi alasan mengapa manusia selalu haus pengetahuan. Aristotles mengatakan bahwa “setiap manusia pada kodratnya selalu memiliki rasa ingin tau”.

Berpikir kritis pun mulai dari kekaguman itu. Ada 3 pertanyaan dari Kant (filsof abad-18) sebagai “angin segar” yang mengubah wajah filsafat, yakni: What can we know? What should we do? What can we hope for? Pertanyaan pertama (what can we know) berkait dengan pengetahuan yang dimiliki dan cara memperolehnya. Bagi Kant memperoleh pengetahuan mestinya dengan proses panjang, di mana akal-budi mengolah objek yang dilihatnya melalui “konstruksi” rasio.

Pertanyaan what can we know itu sangat erat dengan ruang lingkup filsafat, yakni epistimologi (filsafat pengetahuan) yang mencakup bahasan tentang logika, filsafat ilmu, dan metodologi. Pertanyaan What should we do berkait dengan nilai atau norma yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari, dan juga sangat erat dengan bidang filsafat mengenai axiology. Dalam kaitan dengan axiology, manusia selalu dihadapkan pada pilihan2 yang berhubungan dengan penilaian baik-buruk, indah-tak indah. Pertanyaan what can we hope for? Pertanyaan itu sangat melekat dengan problem being, segala sesuatu yang “ada”, dari sisi manusia dan relijius (Tuhan dalam eksistensinya). Pertanyaan ini berimplikasi pada problem ontologis dan metafisis.

Problem keberadaan yang mempersoalkan sesuatu yang nyata (kongkrit) dan konseptual atau gagasan2 transenden. Pencarian pengetahuan akhirnya akan memasuki wilayah filsafat (epistimologi). Keinginan manusia pada pengetahuan menimbulkan pengamatan atas sesuatu. Pengamatan inderawi ditujukan untuk menangkap gejala (bentuk, aroma, etc.) sekitarnya. Jadi, gejala yang dihadapi bisa menjadi objek bagi dirinya dan struktur hasil bentukannya (subjek-objek).

Hubungan antara subjek dan objek adalah hubungan yang saling terarah satu sama lain. Dalam hubungan itu muncul intensionalitas, suatu keterarahan yang sifatnya timbal-balik, subjek mengarahkan subjek ke objek, & objek menampilkan diri ke subjek.

Pertanyaan lain adalah apakah selain struktur relasi antara subjek-objek, pengetahuan memiliki dimensi lain -----misalnya batas2 pengetahuan dan (atau) sifat pengetahuan? Bidang yang berhak menjawab adalah epistimologi (bahwa batasnya adalah akal-budi or conciousness or rasio manusia).

Filsuf Prancis, Descartes, mengatakan Cogito Ergo Sum (I think therefore I am). Bahwa hal yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun adalah Cogito (kesadaran manusia). Setiap manusia punya kesadaran, sadar atas dirinya, sadar atas sesuatu, & mampu berpikir. Semua yang ada di sekitar manusia dapat diragukan, namun tidak bagi akal-budi atau kesadarannya sendiri. Oleh karena itu, dengan akal-budinya manusia dapat berpikir tentang sesuatu, dan mendapat pengetahuan melalui kesadaran.

Sumber pengetahuan adalah akal-budi manusia. Pengalaman pribadinya yang berulang juga dapat membentuk suatu pengetahuan baginya. Pemikiran or kesadaran manusia juga dapat dianggap sebagai sumber pengetahuan. Dalam pencarian pengetahuan, selain pengamatan kongkrit atau empiris, kekuatan akal-budi sangat menunjang. Kekuatan akal-budi (rasionalisme) lebih menekankan pada adanya pengetahuan yang a-priori.

Pengetahuan a-priori adalah pengetahuan yang berlandaskan pada rasionalitas (akal-budi) dan tidak menekankan pada pengalaman manusia. Matematika dan logika adalah hasil rasio (akal-budi) manusia, bukan dari pengalaman. Misalnya, dalam logika muncul pernyataan: “Jika benda A tidak ada, maka dalam waktu yang bersamaan benda itu tidak dapat hadir di sini”. Dalam matematika, perhitungan 2+2=4, itu adalah sesuatu yang pasti dan sangat logis. Ada beberapa kaidah dalam logika (hukum berpikir): (1). Prinsip identitas: Jika P benar, maka P benar. Jika Tini benar ke sekolah pagi ini, maka Tini benar ke sekolah. (2). Prinsip non-kontradiksi: Tidak benar jika P itu benar, sementara P tidak benar. Tidak benar jika Ani pergi ke Museum Tsunami, sementara Ani tidak pergi ke museum tsunami. 3. Prinsip benar atau salah: P itu benar atau P itu salah. Roni itu mahasiswa FISIP atau Roni bukan mahasiswa FISIP.

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya